Misi 20 Hari Dari Rumah
Sungguh, ini bukan cerita petualangan James Bond dengan kisah heroiknya. Bukan pula perjalanan spiritual nan gokil Sun Go Kong yang tak lelah mencari kitab suci di barat. Juga bukan misi penyelamatan dunia karena jatuhnya asteroid dan akan menabrak bumi. Bukan, sungguh bukan. Ini hanyalah kisah sederhana nan menggemaskan. Kisah kebaikan yang semoga tak lekang oleh zaman meski jasad tak lagi tegak. Sebuah perjalanan rasa yang patut dikenang di masa istimewa ini.
Sejak wabah Wuhan menyebar hampir di seluruh bagian dunia, Indonesia termasuk negara yang harus bersiaga penuh. Per 19 Mei 2020 jumlah penderitanya sebanyak 18.496 orang dengan riwayat sembuh 4.467 orang dan yang meninggal dunia 1.221 orang. Kurva penderitanya tak kunjung melandai sejak kasus positif pertama per 2 maret 2020. Pandemi Corona Viruses Disease 2019 atau yang lebih dikenal dengan covid-19 ini adalah virus jenis baru. Hingga detik ini belum diketahui secara pasti bagaimana karakter virusnya. Covid-19 bisa bertahan di tanah selama 8 hari, di udara selama beberapa jam, termasuk bertahan di plastik, kain, besi dan kertas.
Di Indonesia sendiri sudah diberlakukan karantina mandiri (lockdown). Ini mengakibatkan sejumlah sekolah dan kantor libur untuk sementara. Dan saat ini kurang lebih 2 bulan sejak diberlakukannya lockdown. Bagi saya kaum rebahan, aturan ini memang hampir tidak ada bedanya. Namun, tak disangka situasi ini pun berdampak juga pada aktivitas yang biasanya dilakukan. Kajian, perkumpulan, arisan bahkan berbelanja di pasar dibatasi bahkan ditiadakan. Dan ditengah masa ini, merebak pula kajian, seminar, kuliah, sekolah bahkan akad nikah yang semuanya dilakukan secara online. Agar tidak bosan, beberapa perkumpulan mengadakan tantangan yang bisa diikuti oleh masyarakat umum. Termasuk forum lingkar pena cabang Surabaya yang menginisiasi tantangan menulis selama 20 hari non stop.
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Demikian sabda Rasulullah SAW dalam silsilah Ash-Shaahihah no.2026.
Sejak lama saya mencintai dunia tulis menulis. Pertama kali membaca majalah An-nida lalu berkenalan secara tak langsung dengan para punggawanya, sebut saja Bunda Helvy, Mbak Asma, Mnbak Sinta, lalu Gegge Mappangewa, membuat saya jatuh cinta dengan dunia ini. Sayangnya, saya terdistraksi dengan hal lain sehingga belum menemukan komunitas yang mendukung. Juga belum percaya diri untuk membuat tulisan yang menarik.
Maka, di ramadan 1441 H ini resmilah saya bergabung dalam pejuang kebaikan. Menisbatkan diri menebar kebaikan dalam barisan kata. Ternyata menulis itu asyik. Ini seperti oase. Apalagi ditengah pandemi saat ini, dimana pemerintah menetapkan aturan pembatasan berkala besar, sehingga orang yang ditemui di dalam rumah sudah pasti dia-dia lagi. Menurut Jhon Gray, penulis buku Men Are From Mars and Women Are From Venus, wanita harus mengeluarkan 16.000-20.000 kata per hari. Dan jika kata-kata itu hanya mengendap, maka ia seperti bom waktu. Ia akan meledak di waktu yang tepat. Maka, menulis adalah pelampiasan.
Tidak hanya itu, beberapa pakar psikologi mengungkapkan bahwa menulis dapat dijadikan sebagai terapi diri. Utamanya bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental. Seorang psikoterapi pernah mengujicobakan terapi menulis pada pasiennya dengan menulis setiap hari selama 15 menit dan hasilnya sungguh signifikan. Menulis memang mampu melepaskan beban pikiran. Setiap hari tanpa sadar kita memasukkan informasi yang tidak dibutuhkan. Informasi ini sejatinya adalah beban dan kita butuh wadah untuk melepaskannya. Menulis adalah salah satu cara untuk menyegarkan pikiran.
Menulis 20 hari tanpa henti bukan tanpa tantangan. Apalagi usia anak saat ini menuntut perhatian lebih. Maka mencuri waktu diantara waktu yang tersedia adalah solusinya. Kadang menulis di handphone saat anak lengah. Kadang menulis di laptop saat anak tidur atau bahkan menunggu sampai tengah malam agar bisa menulis dengan tenang. Selain itu, kesulitan mencari ide adalah tantangan berikutnya. Apalagi tema cerita hanya berkisar kegiatan di rumah saja. Maka, bagaimana menghadirkan kisah sederhana namun menarik untuk dibaca. Juga poin tambahannya adalah menulis dengan kata baku. Duh, kesulitannya jadi naik tingkat kalau begini.
Tak jarang ingin menyerah saja di tengah jalan. Tapi, demi mengingat kebaikan yang dibagikan melalui tulisan, saya harus bertahan. Tulisan sederhana yang bisa jadi tidak banyak orang yang membacanya namun berharap suatu saat tulisan ini menjadi pengingat bagi diri sendiri.
Menulislah, maka engkau akan abadi
(Helvy Tiana Rosa)



1 komentar
keren tulisannya kak....
BalasHapussukses buat lomba blog nya
barangkali berkenan mampir ke blog saya kak:
Berbuat Baik Bisa dari Rumah #CeritakuDariRumah
Aplikasi Resep Masakan Terlengkap