"Ingat-ingat kita dulu sangat menginginkan ini dan berapa banyak pasangan suami istri yang juga menginginkan anak tapi Allah belum kasih"
Ini sepotong nasehat mr bojo ketika sy mulai 'tak terkendali' menghadapi tingkah ajaibnya 😁.
"Padahal baru 14 bulan, apakabar yg punya anak banyak? 3,5,7? Apalagi yang jaraknya rapat 😌".
Nah.. Nah.. Pikiran kayak gini seringkali meracuni, alih-alih bikin semangat, entah kenapa jadi menyalahkan diri sendiri. Apalagi perbandingan kayak gini datang dari orang lain. Pikiran dari diri sendiri aja sudah membebani, apalagi harus datang dari komentar netijen 😌.
Padahal lelah itu niscaya. Bekal dari kulwap tentang mengenal emosi anak sejak dini bahwa ada 3 hal yg perlu kita deteksi sebelum mengambil tindakan
√ SADARI = sadari bahwa mom itu juga manusia yg bisa lelah. Memahami diri sendiri dulu itu lebih besar penting. Baru kemudian sadari bahwa anak juga sedang tidak nyaman.
√ KENALI = mencari tau faktor apa yg membuat mom menjadi lelah dan faktor apa anak menjadi tidak nyaman.
√ KELOLA = setiap emosi yang keluar dari diri, baik itu sifatnya bahagia ataupun marah juga sedih harus dikelola. Diri sendirilah yang lebih paham bagaimana mengelola emosi. Bisa menjauh dulu, minum teh hangat atau sekedar ke halaman rumah sambil liat hehijauan. Biasanya jika ibu sudah tenang, anak akan ikut tenang.
MasyaAllah..beruntung sekali di jaman yang canggih ini, para orangtua disuguhkan sekolah, seminar, workshop, training parenting yang tersebar di mana-mana. Apalagi kondisi pandemi saat ini. Ada yg gratis, berbayar, tinggal pilih menyesuaikan kondisi masing-masing.
Namun, seperti yang pernah disampaikan guru ngaji saya, fujuroha wa taqwaha. Kebaikan-kebaikan yang mbrudul ini selalu diiringi dengan kejahatan yang juga melesat.
Maka, bukan kita yang mampu menjauhkan anak-anak kita dari pengaruh buruk, tapi Allah yang memampukan. Bukan kita yang kuat didikan kebaikannya, tapi Allah yang menguatkan. Bismillah.


