Ramadhan : Sekolah Sebulan
Deg-degan karena sudah memasuki malam ke-25. Tiap menit menjadi begitu berharga. Tiap detik seolah tak mau dilewatkan begitu saja. Betapa waktu melesat bagai anak panah. Cepat dan tak terkendali.
Salah satu kebaikan ramadhan adalah banyaknya fasilitas yang selalu mendukung untuk berada dalam kebaikan. Di tahun-tahun sebelumnya dimana pandemi belum muncul, ada pesantren dadakan di bulan ramadhan atau lebih dikenal dengan pesantren kilat. Lembaga-lembaga quran, yayasan islam dan tak terkecuali sekolah islam sampai umum ikut meramaikannya.
Agenda utamanya pun beragam. Dimulai dari pesantren khusus menghafal al-quran, belajar bahasa arab atau agenda umum yang didalamnya beragam kegiatan. Semarak kebaikan ini pun diminati masyarakat, utamanya pelajar. Tak jarang, momen inilah yang ditunggu-tunggu. Allah SWT memang menjadikan bulan ramadhan teramat istimewa, termasuk dimudahkannya kita hambanya menikmati kebaikan.
Tak terkecuali saya, ditahun 2016 lalu, ikut menikmati kebaikan itu. Mengambil bagian sebagai peserta dauroh al-quran yang diadakan oleh salah satu kampus khusus quran di Jawa Tengah. Meski di awal sempat shock karena kondisi yang tidak biasa. Bayangkan 10 hari tanpa memegang handphone, berkomunikasi dengan orang luar dan hanya berkutat di situ-situ saja. Ah, bisa jadi saya memang belum menikmatinya. Tapi lihatlah, hingga kini, pesantren ramadhan tersebut menjadi kenangan manis di hati.
Bulan ramadhan memang ibarat sedang bersekolah. Ia tak hanya mendidik nafsu saja, tapi juga hati, mental dan perilaku. Keistimewaan ramadhan ini menjadikan kita ringan saja bersegera dalam kebaikan. Kalau dulu masih malas-malasan menunaikan shalat tepat waktu, saat ramadhan begitu mendengar adzan langsung melangkahkan kaki ke masjid. Jika dulu, al-quran berdebu karena disimpan saja di dalam lemari, sekarang agk lecek karena seringnya dibaca. Dulu bangun subuh hampir telat, sekarang sudah siap beberapa jam sebelum subuh tiba.
Masyaallah tabarakallah, ramadhan memang mendidik manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jika dulu senang sekali membicarakan tetangga kanan kiri, kini omongan sudah di rem sedikit demi sedikit. Jika dulu, hati langsung panas lihat tetangga beli kulkas baru, kini hati senantiasa adem tersiram bacaan quran. Tapi pendidikan memang butuh proses. Bukan perjalanan singkat yang hasilnya dapat dinikmati dalam sekejap.
Ramadhan juga mendidik dalam soal kepekaan sosial. Puasa sendiri hakikatnya adalah merasakan kehidupan kaum dhuafa. Mereka yang serba kekurangan dan tak jarang sering menikmati pahitnya kehidupan. Maka Allah SWT memaksa kita untuk memuncul sifat dermawan dengan berbagi kepada yang membutuhkan. Salah satunya dengan zakat fitrah yang wajib dikeluarkan setiap kaum muslimin.
Kurikulum ramadhan sejatinya adalah tentang menjadikan diri pribadi lebih baik lagi. Baik hubungan secara vertikal maupun horisontal. Rangkaian ibadah ramadhan menjadikan setiap muslim berlomba-lomba dalam prestasi kebaikan. dan totalitas sebagai hamba Allah SWT pun dapat terwujud.
Berbagai ujian dan tantangan pun pasti datang dalam proses pendidikan yang berlangsung selama sebulan ini. Dan bagi mereka yang mampu melewatinya dengan baik, maka derajat taqwa tersemat padanya. Gelar muttaqin inilah yang dicari. Ada jaminan dari Allah SWT bagi hambanya yang meraih penghargaan tersebut. Jaminan ini langsung disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya,
Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang melakukan amal ibadah tambahan (sunnah) di bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI-HARIKE-17


0 komentar