Berjaga di Waktu Berkah (2)
Ada yang hilang di ramadhan kali ini. Kebiasaan yang selalu menjadi penanda bahwa sekarang adalah bulan ramadhan. Kebiasaan yang bisa jadi hanya ada di Indonesia. Kebiasaan yang ternyata menerbitkan rindu. Jujur ini adalah momen berharga sekaligus langka.
Pertama kali mendapati ramadhan di Surabaya, saya merasa aneh. Tidak hanya ramadhan, bahkan hampir setiap hari, tapi di bulan ramadhan, kebiasaan ini semakin bertambah. Orang-orang menyebutnya sebagai tahrim. Mungkin saya yang tidak terlalu memperhatikan sebelumnya, sehingga ketika tinggal di Surabaya, tahrim ini menjadi hal yang baru. Biasa juga disebut dengan shalawat tahrim. Selalu diperdengarkan menjelang maghrib atau subuh. Bait dan syairnya mengandung makna yang dalam. Berisi puji-pujian terhadap Rasulullah SAW.
Beberapa waktu yang lalu, shalawat tahrim menjadi sorotan. Pasalnya ada beberapa aduan bahwa mereka terganggu dengan shalawatnya yang diperdengarkan dengan volume maksimal. Shalawat tahrim ini memang menjadi penanda, terutama di subuh hari. Sayangnya, kebiasaan ini semakin lama semakin hilang dan ditengah kondisi seperti ini, beberapa masjid malah tidak memperdengarkannya lagi.
Kebiasaan inilah yang saya rindukan. Bagi saya, ini bukan hanya sekedar melantunkan syair pujian tapi juga sebagai penanda masuknya waktu keberkahan. Seringkali kita lalai dengan 2 waktu ini. Menjelang subuh dan maghrib. Bagi ibu-ibu seperti saya, memang di kedua waktu ini justru masa yang paling riweuh. Ya memasak, mandikan anak, beres-beres dan lain sebagainya. Dan berharap dengan adanya tahrim ini menjadi penanda di waktu yang berkah.
Berkah adalah kebaikan yang bertambah-tambah. Apalagi di bulan ramadhan, berburu di waktu berkah seperti mencari harta karun. Dan bila mendapati waktu berkah, maka berjagalah. Berdzikir atau berdoa.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,
“Rabb kita tabaraka wata’ala turun ke langit ketik tersisa sepertiga malam terkahir. Lantas Allah berfirman,” siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR Bukhari no.1145 dan Muslim no.758). ibnu Hajar juga menjelaskan hadits diatas dengan berkata,” doa dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari 3:32).
Menjelang berbuka hinga berbuka puasa juga merupakan waktu yang penuh berkah. Menjelang bebuka kita menanti dan setelah berbuka merasakan kebahagiaan, yaitu diperbolehkannya makan dan minum setelah seharian menahannya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,
“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan yaitu ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya kelak.” (HR. Muslim no. 1151).
Keberkahan lainnya ketika berbuka puasa adalah dikabulkannya doa orang yang berpuasa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doa pemimpin yang adil dan doa orang terdzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2528).
Berjaga di waktu berkah ibarat menjaga perbatasan. Tak lengah juga tak lalai. Sayangnya, dua waktu berkah ini mudah sekali untuk dilalaikan. Entah karena ada acara televisi yang menarik, entah harus menyiapkan menu berbuka atau sahur, entah berjualan dan banyak lainnya. Nah, buat ibu-ibu yang merasa keteteran di 2 waktu tersebut, bisa mengkondisikan di waktu-waktu sebelumnya. Kuncinya adalah koordinasi dengan keluarga, utamanya suami. Dengan mengkaji 2 waktu yang berkah ini semoga timbul kesadaran sehingga tidak mudah melewatkannya apalagi di bulan ramadhan. Waktu terus berlalu. Ramadhan yang dinanti akan segera pergi. Mari tetap menjaga semangat untuk menutup ramadhan dengan kisah terbaik.
#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI-HARIKE-16


0 komentar