A Moment To Remember


 

Terik matahari membakar kota pahlawan siang itu. Sekumpulan perempuan berjilbab terlihat asyik mendiskusikan sesuatu. Tak dihiraukan panas dan gerahnya yang melebihi batas normal. Untungnya, mereka sedang berteduh di tingkat dua masjid kampus, yang memang dikhususkan untuk jamaah perempuan. Rumah Allah SWT memang selalu sejuk. Walau tak ada semilir angin, kenyamanan dan kedamaian selalu menjadi alasan untuk kembali ke rumah Allah SWT ini.


Menjelang ramadhan, perempuan-perempuan ini memang semakin aktif terlihat bersama. Mereka sedang merencanakan sesuatu dalam menyambut bulan terbaik. Rona bahagia memancar dari raut wajah mereka. Bulan ramadhan artinya mereka lebih sering bersama, saling mengalirkan dan memancarkan kebaikan.


Kenangan berharga ini selalu melekat kuat di dalam ingatan saya setiap ramadhan akan tiba. Walaupun tahun-tahun telah berlalu dan masing-masing dari kami sudah berpencar di berbagai daerah. Ada yang di Sumbawa, Balikpapan, Cilegon, Bandung, dan ada juga yang masih di Surabaya.


Hal pertama yang dilakukan adalah silaturrahim ke ibu-ibu sambil meminta petuah. Tak sekedar itu, silaturahim ini juga memberikan gambaran bagaimana rumah tangga itu. Rangkaian pertama ini sangat menyenangkan. Nasihat-nasihat yang diberikan secara cuma-cuma tak hanya menambah ilmu tapi juga pengalaman baru. Mendengar “curhatan” ibu-ibu ini ibarat mendapat petualangan tanpa harus bersusah payah melewatinya.


Puas mendapat petuah, kami memasang target untuk ibadah ramadhan. Berapa kali khatam. Berapa target hafalan?. Berapa kali itikaf?. Berbuka puasa dimana saja?. Shalat tarawih dimana saja?. Berapa kali itikaf?. Dimana tempat itikaf terbaik?. Masyaallah tabarakallah, sangat bersyukur dikelilingi orang-orang yang senang memburu kebaikan. Mengiringi kebaikan memang tak bisa sendirian, harus ada teman yang senasib sepenanggungan.


Ada satu tempat istimewa yang kudu wajib kesana tiap tahunnya di bulan ramadhan. Selain masjidnya ramah, bersih dan aman, makanan berbukanya sangat istimewa. Kami yang sebagian besar anak kos ini tentunya berburu makanan enak nan penuh gizi dan kalau bisa gratis. Wkwkw. Letak masjid tersebut juga dekat sekali dengan kampus dan berada di dalam perumahan elit sehingga kami, gadis-gadis pemburu takjil ini tidak takut kesana sendiri.


Suatu malam, seperti yang sudah direncanakan, kami memacu motor menuju salah satu masjid yang cukup jauh dari kampus. Lokasinya di sekitar tanjung perak. Saya yang tidak berani membawa motor sendiri dibonceng salah satu dari mereka. Masjid itu terkenal dengan imam tahajjudnya yang bisa membuat mata berderai. Mobil besar dengan bak terbuka, tronton, bis-bis besar melewati kami. Ada yang searah dan ada juga yang berlawanan arah. Maklum tanjung perak memang salah satu jalan penghubung dengan banyak hal. Kami berangkat malam setelah tarawih karena masih banyak agenda di kampus.


Tiba di lokasi, masjid sudah penuh, tempat parkir juga penuh. Banyak juga anak-anak muda yang baru tiba dan mencari tempat parkir. Di dalam masjid, sudah banyak sajadah yang terhampar. Banyak juga yang datang bersama keluarganya. Masyaalah tabarakallah. Sungguh begitu mudah Allah menggerakkan hati dalam kebaikan ketika ramadhan. Yang membuat kami tercenggang ketika melihat salah seorang ibu menggendong bayinya. Bayi dengan umur bulanan. Mungkin selepas nifas, sang ibu langsung tancap gas.


Kenangan berharga ini berputar lagi setiap ramadhan tiba. Dalam kondisi saat ini yang sudah berbeda, kenangan itu menjadi salah satu penguat. Kenangan itu menjadi salah satu acuan di bulan ramadhan berikutnya.  Terimakasih yaa Allah atas nikmat sahabat yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Benarlah perkataan Imam Syafii :

Jika engkau punya teman

yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah

maka pegang eratlah dia

jangan pernah kau melepaskannya

karena mencari teman baik itu susah

tapi melepaskannya mudah sekali

 #inspirasiramadhan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI-HARIKE-4

You Might Also Like

0 komentar