Sebuah Pinta Sederhana
Ramadhan kali ini terselip sebuah pinta diantara pintaku yang lain. Sebuah pinta sederhana tapi dampaknya sungguh panjang. Sebuah pinta yang tak pernah kuminta secara khusus di bulan ramadhan yang sudah-sudah, tapi saat ini sebuah pengecualian.
Ada sebuah tembang yang demi mendengar nadanya saja pasti semua orang sudah tahu itu lagu apa. Apalagi jika liriknya ikut dinyanyikan. Lagu populer dengan ciri khas musik Indonesia, dangdut is the music of my country. Entah apakah liriknya berhubungan dengan kisah nyata sang penulis lagu atau bukan. Yang jelas, lagu ini tak lekang oleh zaman.
Bukan hanya orang yang sedang patah hati, yang sedang sakit gigi pun serta merta teringat lagu ini. Pun saya, yang dua hari menjelang ramadhan tiba-tiba terserang sakit gigi luar biasa. Sebenarnya sakitnya sudah lama, namun memuncak ketika menyusui. Teorinya saya kekurangan kalsium sehingga kalsium yang ada pada gigi ikut tergerus juga.
Jika Meggy Z membawakan liriknya dengan mengatakan
“daripada sakit hati lebih baik sakit gigi ini...biarlah tak mengapa.”
Eaaaa. Pemirsa jangan ikut joget ya. Maka saya mengubahnya menjadi
“daripada sakit gigi lebih baik tidak sakit ....sungguh ku merana.. kasian oh kasian.”
Begitulah. Dampak sakit gigi ini memang menjalar kemana-mana. Pukul 01.00 malam saat menyerang, tiba-tiba terbangun dari tidur. Mencoba bertahan tidak mengeluh dan bilang ke suami tapi akhirnya tak tertahankan juga. Pukul 02.00 malam saat sakitnya semakin dahsyat, kuguncang badan suami. Suami terbangun, berat mengangkat matanya.
“Coba pakai freshcare,” katanya. Ya pemirsa, freshcare. Ini salah satu cara yang cukup ampuh meredakan sakitnya. Maka kuoles pipi dan dagu hingga freshcare panas dan sakitnya beralih ke rasa panas. Lumayan reda. Lihat kan?. Sakit gigi bisa bikin kepala tak jernih. Resep freshcare pernah saya coba sekali dan ampuh, sayangnya malam itu saya lupa karena fokus pada sakit yang tak tertahankan.
Maka hari itu suamilah yang bertanggung jawab untuk segala kebutuhan rumah tangga. Mulai dari memasak, mencuci baju hingga momong anak. Tugas saya hanya memberi asi pada si kecil ketika sudah lapar.
Konon sakit gigi bisa sampai menyerang syaraf jika tak segera diobati. Namun, jika nekat ke dokter gigi di saat sakit sepertinya percuma, karena dokter gigi hanya akan memberikan resep obat dan diminta kembali lagi jika sudah tidak sakit. Proses yang memakan waktu ini membuatku berpikir panjang. Apalagi jika bukan karena anak. Pun kondisi saat ini dimana pasien berobat dibatasi. Jika tidak sekarat sebaiknya tak usah ke rumah sakit. Daripada ditolak? mending berdiam dulu di rumah sembari mencoba pengobatan alternatif.
Disini saya teringat sebuah nasihat. Tentang menjaga kesehatan, menjaga kenikmatan dan dampaknya dalam beribadah. Salah satu cara dalam menjaga kekhusyukan ibadah adalah dengan menjaga kesehatan. Contohnya sakit gigi yang kadang dianggap remeh, namun jika sudah terkena, perkaranya sudah tidak sederhana. Maka berobat ke dokter gigi adalah cara kita menjaga kenikmatan yang sudah diberikan Allah SWT. Jika perkara gigi membuatmu tak khusyuk dalam beribadah maka itu adalah tanda dzolim terhadap tubuh dan Allah SWT. Jlebb banget ya.
Baiklah. Perkara ke dokter gigi kita tangguhkan dulu hingga keadaan aman. Dan memasuki ramadhan ini, sebuah pinta sederhana menjadi sangat penting.
Yaa Rabb, maafkan hamba yang dzolim dengan kenikmatan yang Engkau beri
Yaa Rabb, jangan biarkan sakit gigi ini mengurangi kekhuyukan beribadah selama ramadhan
Yaa Rabb, mohon engkau lapangkan dan kuatkan diri dalam beribadah di bulan ramadhan.
#inspirasiramadhan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI-HARIKE-3


0 komentar