Pertemuan Langit dan Bumi

Kabut tipis masih menggantung di pucuk gunung. Dinginnya udara menyapa wajah kami pagi ini. Tapi tentu saja, dingin ini tidak akan bertahan lama. Siang sedikit, terik matahari di kota kecil ini akan bersikap garang. Kota ini bukan seperti Lembang atau Tanah Toraja yang dinginnya bisa awet hingga sore hari. Berbatasan antara laut dan pegunungan menjadikan kota Sawerigading, julukan kota kecil ini, dingin dan panasnya bergantian. Walaupun sebenarnya lebih banyak panas karena didominasi oleh lautan.


Meski begitu, syukurku tiada terkira. Di tengah kondisi yang tak bisa kemana-mana, menyaksikan deretan pegunungan, langit biru dan udara sejuk tanpa polusi adalah kenikmatan tersendiri. Bagi mereka yang hidup di tengah kota, kemewahan in bisa jadi sesuatu yang langka. Menatap tembok, jejeran bangunan yang tak ada habisnya dan paving block yang memenuhi rumah hingga jalanan kerap ditemui. Apalagi mendengar kicauan burung dan gemericik sungan mengalir, pastinya hal yang sulit ditemui.


Maka pagi ini kuajak baby Q menyaksikan kebesaran Yang Kuasa. Bersama-sama menatap kabut yang masih bertengger. Hening. Para tetangga masih mengurung dirinya di dalam rumah atau bisa jadi karena Corona Virus Disease 19. Entahlah. Yang jelas, bersembunyi di balik selimut saat ini memang pilihan tepat selepas hujan yang mengguyur sedari malam.


Keindahan pagi ini mungkin salah satunya karena berkah ramadhan. Yaa Allah ternyata ramadhan sudah memasuki hari ke-9. Sementara salah satu target yaitu membaca siroh nabawiyah masih begitu-begitu saja. Astagfirullah. Tahapan baca masih berkutat di halaman-halaman awal. Meski begitu, kembali membaca siroh nabawiyah benar-benar merasa bahwa rahmat Allah SWT begitu luas dan jangkauannya melampaui ruang waktu.


Pertemuan Langit dan Bumi


Ada teori kepak sayap kupu-kupu, yang singkatnya mengatakan bahwa kejadian hari ini adalah akibat dari peristiwa kemarin. Aidh AL-Qorni dalam bukunya the story of message menerangkan bahwa kenikmatan islam yang hari ini kita rasakan adalah karena adanya pertemuan langit dan bumi. Jauh sebelum memasuki tahun hijriyah, seorang hamba Allah SWT yang terpilih melakukan ‘uzlah. Dan suatu hari diantara ‘uzlah itu, salah satu perantara Allah SWT menemuinya untuk mengangkat Muhammad SAW sebagai Rasul Allah.


Itulah pertemuan yang melahirkan berkah, cahaya menyibak kegelapan, keadilan sebagai pengganti kezaliman, penindasan dan permusuhan serta petunjuk yang menyirnakan kesesatan. Dan hari ini kita hidup dalam naungan yang penuh berkah tersebut. Kita hidup dalam pengaruh pertemuan suci di gua Hira. Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Jibril kepada Muhammad pada situasi, pada malam dan di tempat itu.


Bahkan sang penulis buku, Aidh Al-Qorni bersyair atas pertemuan langit dan bumi di malam itu.

Muhammmad bergetar di mulut gua

Tangannya menggenggam zaman, sejarah dan lembaran hidup

Terbungkus selendang wahyu yang diagungkan,

Cahaya Allah, tanpa mantel buku domba dan kemewahan

Kekufuran, alangkah celaka, adalah murka dari perasaa sedih

Kedengkian dan kesedihan tidak akan mengekalkan amarah di dunia

Tidak pula menjaganya, segala pedang adalah dusta

Yang terbelah dalam kekuatan kebenaran dan iman


Kini, waktu telah melesat. Pertemuan langit dan bumi itu, yang ditandai dengan diangkatnya Rasul Allah, sebagai nabi dan rasul terakhir, pembawa risalah yang menyempurnakan ajaran sebelumnya, bukan hanya sekadar kenangan. Kini, kita hidup dalam naungan suci nan penuh berkah itu. Dan selayaknya kita hidupkan berkah itu dalam shalat, puasa, haji, saat mengkaji dan menuntut ilmu, dalam jihad, berdoa dan dalam dakwah yang kita lakukan.


#inspirasiramadhan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI_HARIKE-2


You Might Also Like

0 komentar