Oase Tak Bertepi




Tak  ada yang lebih menyenangkan selain menghirup udara pagi, sebelum kepulan asap kendaraan dan suara bising meramaikannya. Tak ada yang lebih memabukkan selain menikmati rintik hujan pertama yang jatuh ke bumi setelah terik sepanjang hari. Pun sebaliknya, tak ada yang lebih nikmat selain merasakan hangat matahari yang perlahan menuju peraduannya.

Tak ada yang lebih menenangkan selain menatap lautan luas sebelum ombak menerjang pesisirnya. Pun sebaliknya, tak ada yang lebih indah selain menyaksikan keriuhan ombak menghantam sisi-sisi lautnya.

Inilah oase.

Adalah Rasulullah SAW, setelah melewati tahun yang berat, penuh hinaan, siksa hingga dimusuhi oleh kaumnya sendiri, maka Allah SWT memberikan penghiburan. Apalagi setelah kematian dua orang terkasih, maka “hiburan” dari Allah SWT ini layaknya oase. Sebuah perjalanan istimewa yang tak pernah dibayangkan manusia manapun, hingga ketika kisah ini sampai, tak ada yang percaya kecuali Ash-Shiddiq yang tanpa ragu membenarkan.

Zam-zam memancar selepas bunda Hajar dan Ismail berlari dari Safa ke Marwah. Tak cukup sekali, pinta dan ikhtiar hamba Allah terkasih itu dilakukan 7 kali bolak-balik. Dan zam-zam adalah oase. Inilah bukti dari kuatnya keyakinan dan harapan yang tak padam.

Selayaknya ramadhan  selepas 11 bulan yang hingar bingar. Sebelas bulan yang sibuk mengisi pundi-pundi dunia dan kadang lupa melangitkan doa. Sebelas bulan yang seringkali mengabaikan hati.

Andai kau tahu, bagaimana hebatnya Allah mengatur segala urusan hidupmu, pastilah hatimu akan meleleh karena cinta kepadaNya – Ibnu Qoyyim rahimahullah.
Bagi para pengembara, oase adalah syurga dunia. Pelepas penat setelah berhari-hari melakukan perjalanan. Tempat istirahat sejenak dan mengisi kembali perbekalan. Oase pun tempat bercengkrama dengan sesama pengembara. Menanyakan jalan-jalan mana yang aman dicapai. Mengatur kembali titik-titik perjalanan yang bisa jadi menjauh dari tujuan.

Layaknya oase, ramadhan adalah pelepas dahaga. Kembali menelusuri jiwa yang pekat. Kembali menyapa hati yang sudah sekarat. Kembali memeriksa niat yang bisa jadi sudah melenceng.

Maka tak ada yang lebih diinginkan hati selain kembali mengakrabi pemiliknya.

Dan Allah SWT sangat tahu kebutuhan hamba-Nya. Maka diturunkanlah bulan ramadhan. Bulan terbaik dengan segala kebaikan yang memancar darinya. Inilah syahrul ibadah. Dibelenggu setan-setan agar manusia lepas dari godaan. Dibuka pintu-pintu syurga agar semangat beribadah semakin membara. Diringankan hati hambanya untuk beramal sholeh.

Inilah syahrul rahmah. Waktu-waktu mustajab bertebaran. Doa-doa dikabulkan. Tangan-tangan penuh permohonan meminta sebanyak-banyaknya.

Inilah syahrul mubarak. Sesiapa yang disampaikan umurnya di bulan ramadhan maka berkah Allah SWT senantiasa tercurah. Inilah syahrul maghfirah.

“Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan penuh harap (pahala), maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah syahrul tarbiyah. Nafsu-nafsu dikekang. Hati dikendalikan. Lisan tak mudah berkata. Mata tak liar memandang. Telinga menutup dari yang bukan haknya.

Inilah syahrul shabr.
Rasulullah SAW bersabda,”Puasa itu separuh dari kesabaran.” (HR. AT Tirmidzi).

Inilah syahrul judd.
Anas ra. menyampaikan, ditanyakan kepada Rasulullah,”Sedekah manakah yang palig utama?” jabab Rasulullah, “Sedekah di bulan Ramadhan.” (HR Timidzi).

Dan dijadikanlah ramadhan sebagai syahrul quran. Dilipatgandakan pahala bagi yang membacanya. Diringakan lidah melafalkannya. Dihangatkan hati ketika membacanya. Dilembutkan hati bagi yang mentadabburi ayatnya. Dijadikan waktu kita semakin berkah dengan membacanya. Maka tak ada yang lebih diinginkan hati selain mendekat pada ayat cinta-Nya.

Dan inilah oase terbaik di sepanjang tahun. Inilah oase tak bertepi yang seringkali dirindukan hati.

#inspirasiramadhan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI-HARIKE-1










You Might Also Like

0 komentar