Mudik : Sebuah Dilema

Di Indonesia mudik adalah fenomena. Menjelang idul fitri, masyarakat tumpah ruah berdesakan diantara moda transportasi yag disediakan. Tiap tahunnya, pemerintah sampai kewalahan mengatur sistem dan memberikan fasilitas tambahan bagi para pemudik. Tapi tahun ini tentu tidak begitu. Banyaknya masyarakat yang colong start mudik ditambah pandemi covid-19 yang kurvanya tidak kunjung melandai, tentu menjadi salah satu pertimbangan mudik tahun ini.


Saya termasuk suka menonton berita mudik di televisi. Antusias masyarakat sungguh tak terbendung. Mulai dari rebutan tiket, terutama tiket kereta api, hingga nekat mudik dengan kendaraan beroda dua padahal barang bawaan sangat banyak ditambah jumlah anggota keluarga yang tidak sedikit. Dan mudik adalah sesuatu yang setiap saat dirindukan. Berkumpul dengan sanak saudara dalam suasana yang penuh suka cita, tentu menjadi salah satu momen yang tak dapat dihindari. Pun mencicipi berbagai makanan khas yang bisa jadi tidak ditemukan di perantauan, tentu menjadi hal yang paling dirindukan.


Alhamdulillah saya sempat menjadi salah satu bagian dari mereka. Bercita-cita ternyata harus memberikan kenyataan untuk berpisah dengan keluarga. Tapi inilah perjuangan. Bahkan, Imam Syafii sendiri menjadikan bab perjuangan menuntut ilmu di luar kampung halaman menjadi syair yang indah.

Orang pandai dan beradab

Tak kan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah, kan kau dapatkan pengannti kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

 

Dan memang inilah indahnya mudik. Ketika diperjalanan, aroma masakan dan suasana rumah sudah memenuhi kepala walaupun di jalan harus rela dengan kondisi yang susah payah. Maklum, anak mahasiswa. Tapi nikmatnya memang luar biasa dan hingga detik ini menjadi kenangan. Alhamdulillah saya pernah merasakan mudik dengan moda transportasi yang super nyaman hingga yang serba sesak.


Nyaman karena menggunakan pesawat. Walaupun kelas ekonomi tapi fasilitas dan waktu yang ditempuh menjadi singkat sudah cukup bagi mahasiswa model saya. Sesak karena tidak mendapat tempat duduk. Di tahun itu, peraturan dan fasilitas kereta api antar provinsi belum seperti saat ini. Pengamen, penjaja makanan dan berbagai orang dengan kepentingan yang beragam bebas melenggang keluar masuk di dalam kereta. Tiket kereta pun bisa dibeli menjelang kereta mau berangkat. Namun naas, hari itu saya kehabisan tiket. Tapi daripada sendirian di kampung orang, maka saya nekat saja naik kereta sambil berdoa ada yang berbaik hati.


Tapi, tahun itu memang penuh perjuangan. Lihatlah, saya berdiri selama kereta berjalan dan akan menempuh perjalanan sekitar 700km. Akhirnya saya berpindah-pindah gerbong dan berharap ada kursi kosong. Tapi, jangankan kosong, beberapa keluarga saja ada yang nekat tidur di lantai kereta dengan alas koran. Beruntung saya mendapat kursi di lorong makan. Tapi sebelum itu, saya sempat mencicipi aroma kamar mandi kereta yang sangat terkenal karena jarang dibersihkan selama beberapa saat. Alhamdulillah, orang baik memang selalu ada.


Sejak peraturan pemerintah pusat dan beberapa daerah menerapkan imbauan agar jangan mudik,maka ada sebagian orang yang sudah mudik duluan. Beberapa lainnya tertahan karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Ada juga yang memiliki kesadaran tinggi untuk bertahan di perantauan agar jangan sampai menjadi pembawa virus covid-19.


Hal ini juga yang menjadi ketakutan kami, bagaimana seandainya kamilah yang menyebarkan virus itu. Di kampung suami, banyak yang sudah lanjut usia dengan beragam penyakit yang diderita. untuk itulah kami menahan diri untuk tidak mudik. Begitu pula bungsu kami. Ia bertahan tetap di perantauan walau dengan kondisi yang lumayan memprihatinkan. Teman-teman kosnya sudah pulang. Kerja sudah diliburkan dan para penjual makanan sepi. Tapi kami memilih menjadi pejuang kebaikan agar rantai penyebaran covid-19 bisa terhenti.

 

#inspirasiramadhan

#dirumahaja

#flpsurabaya

#BERSEMADI-HARIKE-18


You Might Also Like

3 komentar

  1. aku suka.. menjadi pejuang kebaikan memutus rantai penyebaran covid-19. Aku kangen bersantuy dg dirimu ngobrol ngalor ngidul gtu..hahahaha

    BalasHapus