Berjaga di waktu berkah (1)
“Seandainya musuh menyerang Mesir di kala bakda subuh, maka bisa dipastikan bangsa Mesir akan jatuh ke tangan musuh.” Kurang lebih begini kata-kata yang diungkap oleh Fahri dalam novel ayat-ayat cinta. Novel bestseller karya Habiburrahman El Shirazy ini sejenak menyentil kebiasaan orang-orang Mesir kala itu. Agaknya kebiasaan itu juga terjadi di belahan dunia lainnya. Apalagi ketika ramadhan seperti ini dengan musim hujan yang membuat udara semakin sejuk.
Suatu ketika Rasulullah SAW menegur putri kesayangannya, Fatimah Az-Zahra, yang saat itu tengah tiduran usai shalat subuh.
Wahai Fatimah, bangun dan saksikanlah rezeki Tuhanmu dan jangan sampai masuk golongan orang lalai. Karena sesungguhnya Allah membagi rejeki hamba-Nya sejak habis munculnya fajar hingga terbit matahari.
Demikian lembut Rasulullah SAW menegur putrinya. Didalamnya ada nasihat dan kabar gembira. Nasihat agar tidak menjadi orang yang lalai dan kabar gembira atas jaminan rejeki dari Sang Pemilik Semesta. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Hibban.
Pagi ini, lembut kicauan burung dan kokok ayam memecah dinginnya pagi, setelah semalaman hujan turun. Pagi hari memang menggoda. Dinginnya udara sanggup membuat kita menarik selimut lagi. Melanjutkan mimpi yang terpotong karena sahur. Namun, sejenak coba kita tajamkan telinga dan mata. Suara anak-anak yang memecah keheningan dengan bermain sepeda lebih indah bukan? Atau suara cakap-cakap tetangga yang sedang berjalan pagi. Tentu ini pagi yang istimewa.
Betapa kita bersyukur bahwa Allah SWT memberikan jaminan rejeki pada mereka yang mau bersusah payah menghidupkan paginya. Imam as-Suyuthi, dalam kitab tadzkirahnya menjelaskan tidur usai subuh adalah salah satu pertanda kefakiran seseorang. Maka mulailah pagi dengan shalat tahajjud kemudian dilanjutkan dengan tilawah lalu shalat subuh. Bakda subuh pun dilanjutkan lagi dengan dzikir pagi lalu ditutup dengan shalat dhuha.
Bahkan Rasulullah SAW berdoa memohon kepada Allah agar umatnya diberikan rejeki di pagi hari seperti yang diriwayatkan dalam hadits riwayat Abu Daud.
Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.
Maka tak ada lagi alasan untuk tidur di waktu yang penuh berkah ini. Jaminan-jaminan dari Allah dan Rasul-Nya harusnya cukup bagi kita untuk senantiasa berjaga di waktu yang penuh rahmat ini. Hampir sebagian ulama, menghukumi tidur pagi dengan makruh. Walaupun ada ulama yang memperbolehkan tidur pagi tapi dengan syarat tertentu. Pertama ia memiliki penyakit susah tidur atau yang dikenal dengan insomnia dan kedua karena pekerjaannya yang harus dilakukan malam hari, misalnya satpam, bidan, perawat dokter, orang-orang yang mendapatkan pekerjaan dengan shift malam.
Pahalamu sesuai dengan kadar payahmu. Keberkahan pagi harusnya menjadi energi bagi kita untuk menghidupkan satu hari itu. Maka pagi ini kukuatkan mata meski tadi malam tidur sangat larut lalu bangun di waktu sahur. Ramadhan akan berlalu. Sangat sayang jika tidak berjuang di detik-detik terakhir. Mengisi waktu dengan berbagai kesibukan. Tilawah, murajaah, dzikir pagi dengan anak gadis, beres-beres rumah, mencuci baju, menyapu. Kerjaan ibu-ibu tak pernah kurang bukan?. Hahaha.
Pagi ini juga kutuntaskan satu tulisan demi memenuhi janji pada diri sendiri. Sebuah janji untuk mencoba satu pengalaman baru yang menantang. Walaupun suka kebingungan sendiri kalau inspirasi lagi seret. Tapi janji adalah janji. Menaklukkan diri itu yang paling penting. Membangun kebiasaan sehat adalah dampaknya. Dan semoga tulisan ini menjadi pengingat di waktu-waktu mendatang, terutama jika Allah SWT masih menyampaikan umur di ramadhan berikutnya.
Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan sore. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya, supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman (QS. Al-Ahzab : 42-43).
~Yusriah di pagi yang istimewa
#inspirasiramadhan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI-HARIKE-11


0 komentar