Quality Time

Siapa yang semakin bertambah umur pernikahan tapi quality time dengan pasangan semakin berkurang?. Siapa yang semakin bertambah umur pernikahan tapi makin sibuk sendiri-sendiri?. Suami dengan pekerjaannya yang seakan tak ada habisnya dan istri dengan kesibukannya dengan anak-anak. Kalau dulu di awal-awal pernikahan nempel kayak perangko, eh sekarang kayak tutup dan pantat botol. Tutupnya di ujung  dan pantat botol di ujung satunya. Tak pernah ketemu. Ujug-ujug kaget, ternyata pasangannya semakin hari kian tak dikenalnya.


Sejak ditetapkannya keputusan dari departemen agama mengenai seluruh kegiatan belaja mengajar dilakukan secara online, maka resmi sudah bapak suami bergabung dalam barisan work from home. Tidak hanya kegiatan belajar mengajar tapi juga absensi, rapat, koordinasi bahkan pelantikan menjadi pegawai negeri sipil pun dilakukan secara online. Kondisi saat ini memang memaksa kita untuk membatasi diri dengan khalayak ramai.


Dari Shuhaib, is berkata, Rasulullah SAW bersabda,

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatk kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya ~HR. Muslim.


Ada satu kebiasaan yang sudah lama saya dan bapak suami lakukan, apalagi semenjak kehadiran si kecil. Dulu ketika masih tinggal di daerah Bogor, Jawa Barat, kebiasaan ini minimal 1 pekan sekali kami lakukan. Entah sebagai ajang untuk merekatkan keharmonisan sebagai pasangan atau sekedar pelampiasan hobi. Mecoba menu baru yang cocok di lidah atau memasak makanan khas Sulawesi Selatan adalah kebiasaan yang kini hilang. Tapi dengan adanya pandemi covid-19, kebiasaan itu kini kembali.


Ini seperti doa yang dikabulkan. Saya masih ingat betul ketika protes ke bapak suami atas kesibukannya sebelum masa-masa lockdown. Pergi pagi dan pulang ketika hari menjelang gelap. Maka ketika kondisi ini muncul, sepertinya Tuhan sedang mengabulkan pinta saya. Sungguh, ini kondisi yang di satu sisi sayang inginkan, tapi tidak di sisi lainnya. Astaghfirullah, sepertinya saya harus belajar lagi bagaimana meminta yang terbaik kepada Allah SWT.


Maka mulailah bapak suami bereksperimen di dapur. Seperti hari ini, selepas terawih, beliau menyiapkan peralatan dan bumbu untuk memasak. Jika beliau yang menjadi koki, maka saya yang akan menjadi asistennya. Sejak sore tadi beliau sumringah. Memperlihatkan hasil buruannya setelah menjaga gerai zakat. Ada ulekan, sendok besar, parutan keju, penapis minyak dan beberapa barang-barang yang didapatkan di supermarket terdekat.


Sudah lama beliau ingin membuat peyek kacang. Makanan favoritnya yang biasanya dibawakan sang adik dari kampung. Namun, dengan kondisi seperti ini, sang adik tak bisa ke kota kami untuk sementara waktu. Jadilah suami bereksperimen sendiri sambil menghitung modal jika peyek ini bisa dijual. Maklum, lulusan matematika ekonomi pasti ujung-ujungnya cari untung. 


It is easy to fall in love, but to stay in love needs effort.


Hampir sebagian besar pakar pernikahan menyarankan adanya quality time antara suami dan istri. Kegiatan ini bisa dilakukan dimanapu, kapanpun dan dengan cara apapun. Intinya adalah kenyamanan bersama pasangan. Tidak harus dalam waktu yang lama, cukup 10 menit setiap hari. Cukup juga dengan melakukan hal-hal sederhana. Misal, mengobrol dengan pasangan atau istilah kerennya pillow talk sebelum tidur. Pembicaraan pun tidak harus tentang anak-anak, belanja atau yang berbau rumah tangga. Sekadar ngalor ngidul cukup membahagiakan jiwa. Atau jika ingin lebih mewah sedikit, sesekali pergi berlibur berdua.  


Seiring waktu, kita berubah, dan pasangan pun berubah. Dan kita butuh untuk terus berkenalan dengan pasangan sepanjang waktu, tanpa henti, tanpa kenal waktu.

 

#inspirasiramadhan 

#dirumahaja 

#flpsurabaya 

#BERSEMADI-HARIKE-12


You Might Also Like

0 komentar