Menghidupkan 10 Hari Terakhir Ramadhan Di Rumah Aja
Rasanya seperti baru kemarin mempersiapkan hati memasuki bulan ramadhan 1441 H. Tahun ini berbeda karena masa pandemi yang tidak tahu kapan akan berakhir. Otomatis semua kegiatan berjamaah yang biasa dilakukan di masjid dipindah ke rumah.
Dan sekarang 10 hari terakhir ramadhan sudah di depan mata. Sedih tentunya. Apalagi bagi saya yang memiliki bayi, rasa-rasanya target ramadhan banyak yang meleset. Mau baca quran saja, bayi tiba-tiba menangis mencari perhatian. Belum lagi qurannya ditarik, disobek, dibolak-balik dan banyak lagi. Atau saat shalat dimana mukena Umma dan sarung abinya ditarik-tarik. Riweuh mah pokokna, ceuk Sunda teh.
Pepatah Arab mengatakan, waktu adalah pedang. Jika waktu tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya, maka tajamnya pedang akan menebasmu.
Sepuluh hari terakhir ramadhan adalah masa krusial. Inilah waktunya mengencangkan ikat pinggang ikhtiar. Disinilah Allah SWT menyematkan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam indah dimana malaikat sesak mengisi bumi. Setiap hajat dikabulkan. Setiap kesalahan dimaafkan. Malam dimana orang-orang berlomba-lomba mencarinya.
Setiap takdir Allah SWT itu baik. Jika terlihat menyakitkan, kita saja sebagai hambanya yang harus menggali hikmh dari sisi mana saja. Aku sesuai prasangkamu. Prasangka yang baik akan melahirkan ketenangan hati, begitu kira-kira. Jika dulu 10 hari terakhir ramadhan bisa itikaf di masjid, bisa bercengkrama secara langsung dengan ustadz, bisa belajar tahsin atau setoran hafalan sembari tatap muka, tahun ini mungkin agak sedikit berbeda.
Salah satu hal menakjubkan yang membuat manusia sangat istimewa sebagai makhluk Allah adalah kemampaunnya beradaptasi dalam kondisi apapun. Kalau kata suami, bukan meninggalkan zona nyaman tapi meluaskan zona nyaman. Jadi, kita pun bisa menjadikan suasana rumah layaknya itikaf di masjid. Yuk, simak tips-tipsnya.
- Banyak-banyak mencari tahu dan memahami keutamaan Lailatul Qadr. Ini penting agar semangat dan keistiqomahan selalu terjaga hingga akhir ramadhan.
- Mengajak seluruh anggota keluarga untuk bersemangat beribadah di 10 hari terakhir ramadhan. Ini penting untuk menyamakan frekuensi. Layaknya suasana itikaf yang terbangun di masjid karena semua orang yang datang untuk itikaf punya tujuan yang sama.
- Meluruskan niat hanya untuk Allah SWT dan ikhlas menjalani 10 hari terakhir ramadhan.
- Menyelesaikan pembayaran zakat fitrah agar tidak ada lagi keperluan mendesak yang bisa mengganggu kekhusyukan ibadah.
- Mengondisikan salah satu ruangan atau menyediakan tempat yang cukup untuk menunaikan itikaf. Lebih baik lagi jika di rumah sudah tersedia musholla. Tempat atau ruang khusus ini membantu kita untuk lebih fokus dalam beribadah.
- Menyingkirkan semua gangguan yang dapat mengganggu ketenangan ibadah. Misal, handphone. Jika perlu matikan wifi/ paket data seluler ketika malam hari, lebih baik lagi jika di 10 hari terakhir. Buat ibu-ibu yang sering rempong dengan masak memasak, sebaiknya menyediakan makanan beku yang tahan disimpan di freezer, sehingga waktu beribadah semakin maksimal.
- Menyediakan bacaan khusus selama itikaf atau daftar kajian online yang bisa didengarkan selama itikaf.
- Menyediakan pakaian khusus dalam beritikaf.
- Menyiapkan daftar doa-doa yang bisa dipanjatkan selama itikaf. Doa juga bisa bersifat khusus apalagi jika ada hajat yang ingin segera ditunaikan.
- Shalat taubat dan meminta maaf juga meminta keridhoannya untuk melaksanakan itikaf terutama kepada orang terdekat (orangtua, suami/istri, anak).
- Memperbanyak doa khusus yang diajarkan Rasulullah SAW selama 10 hari terakhir ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda, “Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fuanni (Yaa Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI-HARIKE-13


0 komentar