Seindah Teguran
“Kita itu alhamdulillah, punya sesuatu yang bisa dimakan ketika berbuka. Ada orang yang berbuka saja tidak tahu mau makan apa,” kata suami saat melihatku membeli makanan berbuka padahal di rumah masih melimpah makanan.
“Puasa kita itu baru sebatas menahan dan waktunya sudah jelas. Ada orang di luar sana sampai kapan harus menahan untuk berbuka,” lanjut beliau lagi.
Suami tipe orang yang sangat jarang menegur. Jika ada yang tidak disukainya, biasanya hanya menunjukkan wajah yang tidak suka setelah itu biasa lagi. Tapi menegur dengan kata-kata?. Bisa dihitung dengan jari.
Ini persis yang digambarkan John Gray dalam bukunya Men Are From Mars and Women Are From Venus. Laki-laki itu makhluk yang irit kata-kata. Ekspresinya adalah tindakan dan pembuktian. Jadi jika ada laki-laki yang hanya mengajak pacaran tanpa komitmen pernikahan bisa dikatakan bukan lelaki seutuhnya. Eh kok jadi kesitu?. Haha.
Sebaliknya, wanita berekspresi dengan kata-kata. Menurut dr Aisyah Dahlan, hal ini juga didukung oleh struktur otak di dalam kepalanya sehingga normalnya wanita bisa mengeluarkan 16.000 – 20.000 kata-kata. Jadi, amat sangat wajar jika wanita itu ceriwis. Namun, kata ustadz Salim A Fillah, wanita sholehah itu ceriwisnya ya sholihah juga. Di awal pernikahan, perbedaan 2 karakter ini bisa jadi kejutan yang tak disangka. Jika tak ada kemauan dari salah satu pasangan untuk menekan egonya, perbedaan ini bisa jadi bumerang. Duh, ini malah bahas pernikahan. Maaf.
Balik lagi ke persoalan makanan berbuka. Sepanjang perjalanan pulang tadi, tampak barisan penjual makanan berbuka yang berjejer rapi. Panganan khas sulawesi selatan terlihat menggiurkan. Ada pisang ijo, cendol, barongko, jalangkote dan beberapa gorengan lainnya. Seharian mengurus anak, pekerjaan rumah tangga, lalu sore hari melihat jajanan seperti itu, siapa yang tidak tergiurkan?.
Tapi, sejatinya, ketika berpuasa lalu melihat makanan memang begitu. Seakan-akan perut ini mampu menamping semua penganan yang dihidangkan. Padahal, sebutir kurma dan seteguk air saja sudah mampu menghilangkan dahaga. Inilah nikmat yang dijanjikan Allah SWT. Kenikmatan dan kebahagiaan orang yang berbuka puasa. Tapi, dasar lapar mata ditambah lapar perut, tak kuasa juga menahan nafsu untuk mencicipi jajanan tersebut.
Usai ditegur suami, saya terdiam. Membayangkan banyak saudara seiman di luar sana yang kurang beruntung. Betul kata suami. Apalagi ditengah pandemi seperti ini, sepertinya tak layak jika kita menghamburkan uang hanya demi memenuhi nafsu mata dan perut saja. Kemarin diberitakan seorang ibu dan anaknya terpaksa tidur di masjid karena tak punya lagi tempat tinggal. Beberapa waktu yang lalu, karyawan-karyawan banyak yang dipecat dan sekarang kebingungan dengan nasib anak istrinya.
Ini baru kondisi dalam negeri. Saudara seiman di Palestina menikmati ramadhan dengan kondisi yang tak pernah saya bayangkan. Biasanya bulan ramadhan mereka lalui dengan kondisi musim dingin ditambah perang yang tak pernah usai. Dan para penjajah itu justru semakin riang menggempur Palestina di tengah ramadhan.
Maka betapa kufurnya saya dengan segala nikmat yang diberikan Sang Kuasa. Tak habis-habis saya beristighfar pada diri sendiri. Juga mensyukuri segala karunia dari Yang Maha Rahman. Maka jika hari ini keluhan kita hanya tak sebebas dulu keluar rumah, tak bisa ke masjid untuk teraweh atau bahkan nanti jika idul fitri tidak bisa digelar di sekitar rumah, ingat-ingatlah bahwa kita punya saudara seiman yang kondisinya bahkan tak mampu benak kita membayangkan.
#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI-HARIKE-14


0 komentar