Catatan 17 Ramadhan
Adalah Ash-Shiddiq, yang tergugu setiap ayat suci mengalun di bibirnya. Sampai-sampai Aisyah ra mengatakan,” jangan ayahku, hatinya sangat lemah jika berhadapan dengan Al-Quran. Air matanya mudah mengalir. “ Kala itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq diminta untuk memimpin shalat menggantikan Rasulullah SAW yang sedang sakit. Aisyah takut, sedu sedan ayahnya akan membuat jamaah shalat gusar.
Adalah Al-Faruq, yang jiwanya tergoncang tatkala mendengar surat Thaha yang dicuri dengarnya dari rumah adiknya. Panggilan keimanan tak dapat disangkalnya. Niatnya yang semula membunuh Rasulullah SAW berbalik menajdi panggilan hidayah. Itulah hari yang akan dikenang seluruh muslimin. Hari dimana doa Rasulullah SAW dikabulkan dengan masuknya Umar bin Khattab ke dalam islam. Allah memang menjanjikan akan ada orang-orang mukmin yang bergetar hatinya tatkala dibacakan ayat-ayat al-quran.
Duhai hati, adakah dirimu juga bergetar saat kalam-Nya kau dengar?
Ada riwayat yang mengatakan, Imam Syafi’i hafal al-quran di usia 7 tahun. Riwayat lainnya menyebut 10 tahun. Imam Bukhari, periwayat hadits, juga menghafalkan ayat-ayat Allah di usia yang terbilang muda.Ulama-ulama terdahulu, para periwayat hadits, para penulis tafsir adalah juga penghafal ayat suci-Nya. Bahkan tradisi ini tak pernah putus hingga detik ini. Setiap zaman, selalu ada pemuda gemilang yang jatuh cinta pada ayat suci-Nya. Kisah ini bukan kisah di negeri dongeng. Ia nyata menjadi penyemangat dan pelecut diri.
Mukjizat ini nyata. Risalah penyempurna dari kitab suci sebelumnya. Tak pernah berkurang apalagi bertambah semenjak hadirnya. Puluhan, ratusan bahkan ribuan orang merasakan keajaibannya. Pantas saja, salah satu ulama yang juga penjaga ayat suci al-quran, mengumandangkan bait-bait indahnya dalam sebuah lagu,
Rahman yaa Rahman (Yang Maha Penyayang)
Sa'idni Yaa Rahman (Bantulah aku, Yang Maha Penyayang)
Ishrah Shodri Quran (Penuhi Hati Ini Dengan Al-Quran)
Imlak Qolbi Quran (Lapangkan Dadaku Hanya Untuk Al-Quran)
Wasqi Hayati Quran (Sirami Hidupku Dengan Al-Quran)
Duhai hati, adakah dirimu terpenuhi dengan al-quran?.
Rasulullah SAW bergetar di mulut gua. Tubuhnya menggigil mendapatkan wahyu pertama. Sesampainya di rumah, Khadijah ra, istri kesayangannya menenangkan jiwanya. Wahyu dimana gunung saja hancur jika menerimanya, berkali-kali membuatnya keringan dingin, kadang juga membuat rambutnya memutih.
Tak ada yang meragukan apalagi bisa membuat serupanya. Ia bukan perkataan sesiapa apalagi sihir seperti yang disangkakan orang-orang. Bukan pula syair indah. Ia pemberi kabar masa lalu juga masa depan. Hari ini ilmuwan tak bisa menyangkal apa yang disebutkan dalam al-quran 14 abad lalu. Saat ilmu dunia belum menjangkaunya, al-quran sudah lebih dahulu mengungkapkan kebenarannya.
Ialah Asy-Syifaa, penyembuh bagi yang sedang sakit. Penenang hati yang gundah gulana. Pantas saja, ustman bin Affan mengatakan,
bacalah Al-Quran sebanyak kau menginginkan kebahagiaan.
Hari ini, bertepatan dengan 17 ramadhan 1441 H, kami merenung. Menapak tilas ketika wahyu pertama kali turun. Berusaha merasakan pertemuan antara penghulu malaikat, Jibril, dengan penghulu manusia, Muhammad bin Abdullah. Jika dulu kami memperingatinya dengan mengkhatamkan quran bersama-sama sambil ifthar jama’i, tahun ini berbeda. Kami memang tetap mengkhatamkan al-quran tapi di rumah masing-masing. Istilahnya khatmil quran online.
Doa kami penuh malam ini. Pinta kami agar wabah ini segera berlalu sekaligus sebagai evaluasi diri. Yaa Rabbi, kami rindu berjumpa dan berpeluk dengan saudara kami. Yaa Rabbi, kami rindu saling berkumpul, nasihat-menasihati dan memandang saudara kami yang sholehah.Yaa Rabbi, jika ini takdir terbaik untuk kami maka berilah kesabaran yang baik. Laa Hawlaa Wa Laa Quwwata Illa Billah. Tiada daya upaya kecuali Engkau yang menetapkannya.
#inspirasiramadhan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI-HARIKE-10


0 komentar