Mengukur Niat

Tempo hari, seorang teman baik memberitahukan kegiatan sedekah ramadhan yang dilakukannya bersama organisasinya. Foto-foto kegiatannya beliau posting di sosial media. Tak perlu waktu lama, like dan komentar berebut memenuhi postingannya. Sebagian besar bernada positif dan ada satu komentar sedikit provokatif. Dia mempertanyakan motivasi dan niat berbagi. Tak ayal, teman saya ini agak berang. Padahal tujuannya mempublikasikan di sosial media adalah untuk memotivasi sekaligus sebagai pemberitahuan bagi para donatur.


Kala itu, seorang pemuda yang usianya belum lagi genap 20 tahun memimpin pasukan kaum muslimin dalam peperangan. Perangai dan akhlaknya yang luhur membuatnya dekat dengan Rasulullah SAW. Bisa dibilang, pemuda tersebut adalah cucu Rasulullah SAW dari anak angkatnya, Zaid bin Haritsah. Pemuda tersebut juga dikenal cerdas dan baik hati. Usamah bin Zaid namanya.


Perang yang dipimpinnya membawa kemenangan yang gemilang. Usamah bin Zaid berseri bercerita pada Rasulullah tentang peperangan yang terjadi.

"Ketika kaum itu terkalahkan, aku bertemu seorang laki-laki. Aku hendak menghujamkan tombak, tetapi laki-laki itu mengucapkan syahadat. Aku tetap menusuk dan membunuhnya," kisah Usamah.



Wajah Rasulullah SAW kemudian tampak tidak senang. "Celakalah engkau wahai Usamah! Bagaimana nasibmu kelak dengan ucapan la ilaha illallah?" Demikian kata Rasul berulang kali, hingga Usamah serasa ingin membuang semua amal yang pernah ia lakukan.



Meski lelaki yang ia bunuh itu hanya menyelamatkan diri dari kematian atau mencari kesempatan kembali melawan, ia telah tergerak mengucapkan kalimat agung itu. Darah dan hidupnya terlindungi, terlepas dari apapun isi hati dan niatnya. Ini pelajaran berharga untuk Usamah dan tentunya kita sebagai umat Rasulullah SAW.


Perihal niat, ia memang perkara yang tak bisa diketahui orang. Bersembunyi di hati. Tak dapat disibak kecuali si empunya memang membukanya. Hanya Allah SWT dan dirinya saja yang paling tahu. Bahkan dalam hadits arbain yang derajat keshohihannya tak diragukan lagi, ia menempati urutan teratas. Ia adalah landasan. Ia permulaan, tengah dan akhir.


Dari Umar bin Khathab, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ

“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”


Sayangnya, di era sosial media, perkara niat kadang dipertanyakan. Ada ibu posting anaknya yang sudah hafal ayat-ayat Al-Quran, dibilang pamer. Ada istri yang share menu masakan hari itu, disebut riya’. Ada suami yang upload foto keluarganya, entah dituduh apa. Terkadang kita sibuk mengukur dan mengira-ngira niat seseorang yang boleh jadi tidak benar. Kita menghabiskan waktu menimbang-nimbang niat seseorang. Sangat fatal jika perkiraan itu tercetus dan tersebar kemana-mana. Nampaknya peribahasa ‘mulutmu harimaumu’ tak lagi berlaku. Ia berganti menjadi, jempolmu harimaumu. Ini bisa menjadi ghibah online.


Maka mengukur niat tak ada timbangannya. Ia perkara yang tak bisa dikira-kira. Ia juga perkara yang harus diperlakukan dengan hati-hati. Ia adalah tolak ukur ketika kita akan melakukan sesuatu apalagi dalam misi kebaikan. Ia boleh jadi hadir di awal, namun harus tetap dipastikan berada di tengah dan terjaga sampai akhir. Seringkali kita meremehkannya. Yang penting niat di awal sudah baik, begitu pikir kita. Nyatanya, boleh jadi karena sesuatu hal, niat baik melenceng ke kanan dan ke kiri sebelum sampai pada batas akhir.


#inspirasiramadhan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI-HARIKE-9

 


You Might Also Like

0 komentar