Hikmah di balik kematian
Acapkali mendengar kepergian seseorang, saya terhenyak, kemudian tersadar bahwa dunia memang hanya sementara. Apalagi jika yang pergi adalah orang baik dengan trackrecord kebaikan luar biasa dan diakui banyak orang lalu menghadap Yang Kuasa di bulan yang baik dan hari baik. Sungguh, peristiwa kematian yang begini membuatku lebih tertegun. Bertanya-tanya didalam hati, adakah saya kelak seperti itu?.
Siang ini, di hari ke-13 ramadhan, saya kembali mendapatkan berita itu. Setelah akhir-akhir ini berkali-kali menerima berita kematian baik dari orang terkenal, guru-guru maupun orang dekat, kali ini peristiwa ini begitu membuat haru. Saya memastikan nama orang yang meninggal di salah satu grup whatsapp bahwa beliaulah yang dimaksud karena namanya sangat familiar. Dan ternyata betul, beliaulah yang dimaksud, Ustadz Mutammimul Ula. Saya pun mengingat-ngingat kembali sepak terjang beliau, sembari membuka memori atas buku yang pernah saya baca tentang keluarga beliau.
Sepuluh bersaudara bintang Al-Quran judul buku itu. Saya baca ketika masih jaman mahasiswa. Sangat kagum dengan pengorbanan beliau dan istrinya untuk membentuk keluarga hafidz-hafidzah. Berpulang pada usia 64 tahun dengan meninggalkan anak yang kesemuanya penjaga ayat suci tentu adalah suatu kebanggaan tersendiri. Tak luput juga dengan sepak terjang istri beliau, ustadzah Wiwi yang saya yakin juga buah dari didikan beliau. Di tengah kesibukannya menjadi anggota dewan perwakilan rakyat dan pengurus parta tingkat pusat tak serta merta melalaikan tuganya sebagai seorang ibu dan istri.
Jujur, saya iri. Membesarkan anak dengan gempuran godaan di jaman sekarang sungguh berat, maka tak ada tempat meminta selain hanya keoada Sang Rabbul Izzati. Ketika hamil, saya mendengarkan penuturan istri beliau lewat kajian online. Terlihat begitu eratnya sang istri dengan ketaqwaan dan ketawakkalan pada Allah. Setiap anak bahkan sudah dipetakan sejak dari kandungan, namun menjadi penjaga ayat-ayat suci-Nya adalah cita-cita yang harus digenggam setiap anak mereka.
Masyaallah tabarakalah. Kematian memang selalu membuahkan hikmah. Mampu menelurkan pertanyaan bahwa seberapa banyak bekal yang sudah kita siapkan. Berapa banyak amal yang sudah kita tanam?. Apakah setiap ibadah dilakukan hanyak untuk Dia atau dia?. Apakah setiap penyakit hati mampu kita kikis satu persatu?. Dan seberapa siap kita menemui alam keabadian itu?.
Berkaca dari keluarga 10 bersaudara bintang Al-Quran
membuat kita harus yakin bahwa perwujudan anak-anak yang cinta dengan kitab
sucinya bukanlah kisah di negeri dongeng. Ustadz Tamim, begitu akrabnya, dan
istrinya sendiri bukanlah penghafal Al-Quran. Almarhum Ustaz Tamim punya hafalan 3-5 juz Alquran, sedangkan
istrinya, baru menghafal 2 juz. Meski begitu, mereka yakin untuk kembali kepada
Alquran dan ini menjadi dasar bagi pasangan tersebut untuk menjadikan
anak-anaknya penghafal Alquran. Bagi mereka, pendidikan anak harus dilakukan
secara bahu-membahu baik dari ayah maupun ibu.
Satu orang baik nan sholeh telah kembali pada Rabb-nya hari ini. Kenangan darinya meninggalkan sebuah pelajaran yang luar biasa. Kisah hidupnya dapat dijadikan teladan terutama dalam membesarkan dan mendidik putra putrinya. Sosok ayah yang baik nan sholeh telah kembali pada Rabb-nya hari ini. Beliau membuat kita cemburu karena kebaikannya berjejak bahkan menjadi teladan. Tak ada duka yang lebih nyata dibandingkan ditinggalkan orang sholeh. Bumi berduka tapi langit menantikannya. Air mata yang mengalir bukanlah air mata duka namun air mata kebahagiaan. Berbahagia karena yang terkasih dijemput dalam bulan yang penuh rahmat.
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku! [Q.S Al-Fajr/89:27-30].
#inspirasiramadhan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI-HARIKE-7


0 komentar